
China mengoperasikan sekitar 2.000 server di dasar laut kawasan khusus Lingang, Shanghai, pada kedalaman 35 meter dan berjarak 9,7 kilometer dari garis pantai. Proyek ini dijalankan oleh China Telecom dan LinkWise dengan menggandeng HiCloud Technology atau Hailanyun, serta memanfaatkan air laut dingin untuk membuang panas server tanpa mesin pendingin konvensional. Penggunaan energi fasilitas berkapasitas 24 megawatt tersebut ditopang oleh ladang angin lepas pantai di dekatnya yang memasok 97 persen kebutuhan listrik.
Hailanyun bersama China Academy of Information and Communications Technology mengeklaim pusat data bawah laut ini menyedot listrik 30 persen lebih sedikit dibanding fasilitas di darat
Sebelumnya, Microsoft pernah menguji coba Project Natick di lepas pantai Skotlandia pada 2018 yang menunjukkan hasil keawetan lebih baik, namun proyek tersebut dihentikan pada Juni 2024. “Saya tidak sedang membangun data center bawah laut di mana pun di dunia,” ujar Noelle Walsh, Kepala Cloud Operations and Innovation Microsoft.
Microsoft menegaskan bahwa riset Natick tidak dibuang seluruhnya dan tetap dipakai sebagai wadah riset untuk menguji keandalan serta keberlanjutan data center. “Tim saya mengerjakannya, dan itu berhasil. Kami belajar banyak soal pengoperasian di bawah permukaan laut, juga soal getaran dan dampaknya ke server,” ujar Walsh.
Di sisi lain, insinyur Cadence Design Systems, Mark Seymour, menyoroti tantangan perawatan karena server yang tersegel di dasar laut sulit diperbarui atau ditingkatkan spesifikasinya. “Ini jelas menarik dari sisi pendinginan, tapi kurang menarik dari sisi pengoperasian,” ujar Seymour. “Cara ini kemungkinan bukan jalan paling gampang untuk tetap gesit di dunia yang berubah sangat cepat,” ujar Seymour.
Pembangunan data center Shanghai yang dimulai pada Juni 2025 ini memakan biaya lebih dari 220 juta dollar AS atau sekitar Rp 3,96 triliun.
Peneliti University of California, Davis, Zhang Ning, mencatat Hailanyun hanya butuh waktu kurang dari 30 bulan untuk melompat dari tahap uji coba ke pemakaian komersial. Juru bicara Hailanyun, Li Langping, menanggapi kekhawatiran dampak lingkungan dengan menyebut bahwa panas yang dilepaskan mesin bawah laut tersebut terukur sangat kecil. “Panas yang dibuang data center bawah laut menyebabkan kenaikan suhu kurang dari satu derajat pada air di sekitarnya,” ujar Li.



