BlogOtomotif

Pemerintah Dorong Baterai Nikel, BYD Masih Andalkan LFP

BYD masih mengandalkan teknologi baterai lithium iron phosphate (LFP) untuk kendaraan listrik yang dipasarkan di Indonesia, meski perusahaan telah memulai produksi lokal di pabrik Subang, Jawa Barat.
Hal ini menjadi perhatian karena pemerintah tengah mendorong hilirisasi nikel dan pengembangan baterai kendaraan listrik berbasis nickel manganese cobalt (NMC) di dalam negeri.
Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia Luther Panjaitan mengatakan, saat ini BYD belum menggunakan baterai berbasis nikel pada lini kendaraan listriknya di Indonesia.

“Untuk sementara, BYD masih berfokus pada teknologi yang sudah kami kuasai dan terbukti, yaitu menggunakan LFP,” ujar Luther di Subang, Jawa Barat, dikutip Sabtu (5/9/2026).
BYD mengandalkan teknologi Blade Battery berbasis LFP yang dikembangkan dan diproduksi secara global melalui FinDreams Battery di Chongqing, China.

BYD Belum Masuk Manufaktur Baterai

Meski masih menggunakan LFP, BYD tidak menutup kemungkinan memakai teknologi baterai lain, termasuk NMC, pada masa mendatang.
Perusahaan juga berencana mengembangkan fasilitas perakitan baterai di Indonesia sebagai bagian dari pendalaman manufaktur lokal. Langkah ini sekaligus berkaitan dengan target tingkat komponen dalam negeri (TKDN) kendaraan listrik sebesar 60 persen pada 2027 dan 80 persen pada 2030.
“Kami tidak mengatakan bahwa penggunaan teknologi lain tidak mungkin. Namun, untuk sementara kami masih berfokus pada teknologi tersebut (LFP). Apalagi, kami belum masuk ke proses manufaktur baterai. Jadi, prosesnya masih cukup jauh,” kata Luther.

Pemerintah Dorong Baterai Berbasis Nikel

Di sisi lain, pemerintah tengah mempertimbangkan skema insentif berbeda untuk kendaraan listrik berdasarkan jenis baterainya.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, mobil listrik yang menggunakan baterai berbasis nikel berpotensi mendapatkan insentif lebih besar dibandingkan kendaraan dengan baterai non-nikel.
“Yang baterainya berbasis nikel dan non-nikel akan berbeda skemanya. Perhitungannya nanti dilakukan oleh Menteri Perindustrian. Kenapa yang nikel lebih besar subsidinya? Karena supaya nikel kita terpakai,” ujar Purbaya.

Kebijakan tersebut diarahkan untuk meningkatkan pemanfaatan sumber daya nikel di dalam negeri sekaligus memperkuat industri baterai nasional.
Dengan kondisi tersebut, BYD masih berada pada jalur teknologi LFP yang telah dikuasainya, sementara pemerintah mendorong penggunaan baterai NMC untuk mendukung hilirisasi nikel.
Ke depan, perkembangan fasilitas baterai lokal BYD akan menjadi salah satu faktor yang menentukan apakah teknologi NMC juga akan digunakan pada kendaraan BYD di Indonesia.

Related Articles

Back to top button