Sat. Dec 3rd, 2022

Nagabola.net

Informasi Seputar Berita Sepak Bola Terlengkap dan Terupdate Setiap Hari

Siapa Itu Polisi Moral Iran? Mengapa Mereka Picu Gejolak?

4 min read

Gelombang protes besar-besaran saat ini tengah melanda Iran. Gejolak di ‘”negeri para mullah” tersebut menewaskan sedikitnya 5 demonstran dan melukai puluhan lainnya pada Senin (19/9).

Ini menandai kerusuhan terburuk sejak meletusnya bentrokan akibat kekurangan air di negara itu pada akhir 2021.

Sebagai bentuk protes, para perempuan memotong rambut atau melepaskan hijab mereka. Sebagian demonstran menghancurkan jendela mobil polisi dan membakar tempat sampah.

Namun, wilayah Kurdi menyaksikan protes paling intens dalam kekacauan tersebut.

Aksi protes tak lain menyusul kematian seorang perempuan keturunan Iran-Kurdi, Mahsa Amini (22), setelah ditangkap oleh polisi moral saat sedang berkunjung ke ibu kota Teheran bersama keluarganya, pada Jumat (13/9) pekan lalu.

Koran dengan gambar sampul Mahsa Amini, seorang wanita yang meninggal setelah ditangkap oleh "polisi moral" republik Islam terlihat di Teheran, Iran. Foto: Majid Asgaripour/WANA via Reuters

Amini ditangkap lantaran disebut tidak mengenakan hijab sesuai peraturan yang berlaku. Usai beberapa jam menjalani ‘bimbingan’ di kantor polisi setempat, ia dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan koma. Menurut keterangan polisi, Amini menderita stroke dan serangan jantung. Ia dinyatakan meninggal dunia tiga hari kemudian.

Namun, pernyataan itu disangkal oleh pihak keluarga. Sebab, Amini dalam kondisi sehat sebelum penangkapan terjadi dan tidak memiliki riwayat penyakit apa pun.

Mereka meyakini, justru Amini tewas akibat menerima perlakuan buruk dari polisi moral usai ditemukan adanya bekas memar di kepala dan kaki Amini.

Perlakuan Diskriminatif

Kematian mahasiswi itu langsung disambut oleh amarah masyarakat sekaligus menuai kecaman dari berbagai pihak, terutama kelompok pembela hak asasi manusia.

“Keadaan yang mengarah pada kematian mencurigakan dalam penahanan wanita berusia 22 tahun Mahsa Amini, yang mencakup tuduhan penyiksaan dan penganiayaan lainnya dalam tahanan, harus diselidiki secara pidana,” ujar Amnesty International, seperti dikutip dari Reuters.

Koran dengan gambar sampul Mahsa Amini, seorang wanita yang meninggal setelah ditangkap oleh "polisi moral" republik Islam terlihat di Teheran, Iran. Foto: Majid Asgaripour/WANA via Reuters

“Apa yang disebut ‘polisi moral’ di Teheran secara sewenang-wenang menangkapnya tiga hari sebelum kematiannya saat menegakkan undang-undang pemaksaan berhijab yang kejam, merendahkan, dan diskriminatif di negara itu,” imbuhnya.

Perlakuan semena-mena yang dilakukan oleh polisi moral tidak hanya menimpa Amini. Setiap harinya, kaum perempuan di Iran berjuang melawan penindasan akibat dilanggar kebebasannya dalam berpakaian di tempat umum.

Lalu, apa sebenarnya polisi moral itu? Dan bagaimana kaum perempuan di Iran menghadapi penindasan tersebut? Dikutip dari berbagai sumber, berikut kumparan rangkum hal-hal yang perlu diketahui tentang polisi moral di Iran.

Pria Juga Menjadi Sasaran

Patroli bimbingan (Persia: Gashte Ershad) biasa disebut juga dengan polisi moral. Iran telah memiliki berbagai jenis ‘polisi moral’ sejak Revolusi Islam 1979 pecah, namun sejak 2005 Gashte Ershad adalah lembaga utama yang menegakkan hukum dan etik Islam di masyarakat Iran.

Biasanya, mereka melakukan penangkapan terhadap kaum perempuan yang dinilai tidak berpakaian syar’i. Sebagai negara Islam, hukum Iran menyatakan perempuan seharusnya menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajah dan tangan mereka.

Suasana pemilu di Iran. Foto: Official Khamenei website/Handout via REUTERS

Kaum perempuan konservatif biasanya mengenakan pakaian tradisional chador (pakaian hitam yang menutupi kepala hingga pergelangan kaki, seperti burqa). Namun ada di antara mereka yang memilih untuk mengenakan syal atau selendang yang menutupi rambut mereka namun tidak seluruhnya dan celana panjang.

Terkadang, pria juga ikut menjadi sasaran Gashte Ershad. Penyebabnya, jika janggut mereka terlalu panjang yang membuat mereka mirip jihadis atau gaya rambut mereka tampak kebarat-baratan. Meski demikian, tetap kaum perempuan yang menjadi sasaran utama.

Warga memakai untuk mencegah penyebaran virus corona di sebuah jalan di pusat kota Teheran, Iran. Foto: AP Photo/Ebrahim Noroozi

Kesalahan yang ditunjuk biasanya apabila terlalu banyak terlihat rambut di bawah jilbab, memakai pakaian warna cerah, memakai terlalu banyak make-up, hingga jika sedang berjalan berdua dengan laki-laki yang bukan suami atau keluarganya di tempat umum.

Menyamar di Tempat Umum

Gashte Ershad biasanya melibatkan sebuah mobil van berwarna hijau dan putih, dengan petugas laki-laki yang ditemani wanita berpakaian chador warna hitam. Mereka berdiri di tempat-tempat umum yang sibuk, misalkan di pusat perbelanjaan atau alun-alun untuk melakukan penangkapan.

Per 2016, pihak kepolisian Teheran mengumumkan terdapat sedikitnya 7.000 polisi moral yang menyamar dan menangkap mereka yang tidak mengikuti cara berpakaian sesuai dengan aturan Islam konservatif. Namun jumlah pasukan saat ini diperkirakan meningkat.

Warga memakai untuk mencegah penyebaran virus corona di sebuah jalan di pusat kota Teheran, Iran. Foto: AP Photo/Ebrahim Noroozi

Apabila ada target yang ditangkap, maka mereka akan dibawa ke dalam mobil van tersebut dan diantar ke kantor polisi. Di sana, mereka diajari cara berpakaian yang dianggap benar, namun sering kali dengan kekerasan. Hampir sebagian besar mereka yang ditangkap juga dibebaskan di hari yang sama.

Hal itu diungkap oleh salah seorang perempuan bernama Bita (bukan nama asli) yang pernah ditangkap polisi moral Iran pada 2017 lalu.

“Mereka akhirnya membawa kami ke kantor polisi. Salah satu petugas wanita di sana mengatakan bahwa saya benar, jilbab saya benar. Tapi kemudian dia membaca laporan dan mengatakan bahwa saya rupanya ditangkap karena warna rambut saya – rambut saya diwarnai biru. Mereka juga mengatakan bahwa kancing mantel saya terlepas. Itu bohong,” ujar Bita, seperti dikutip dari France24.

Aktivitas warga Iran di tengah ancaman virus corona. Foto: WANA/Nazanin Tabatabaee via REUTERS

“Para petugas wanita di kantor polisi bahkan lebih kasar daripada petugas yang berpatroli. Mereka menghina kami tanpa henti, mengatakan hal-hal seperti “Diam” dan “Apakah Anda ingin ditampar?” Beberapa wanita ketakutan dan mulai menangis. Saya hanya marah – itu adalah tiga jam penghinaan dan penghinaan,” imbuhnya.

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei. Foto: Official Khamenei website via REUTERS

Aturan ketat soal berpakaian telah secara bertahap berkurang di bawah pemerintahan mantan presiden Hassan Rouhani. Namun, situasi berubah saat Ebrahim Raisi naik ke tampuk kekuasaan saat ini.

Ia bersama sekutu dekatnya, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, mengadopsi aturan yang lebih tegas terhadap penerapan perilaku sesuai kaidah Islam konservatif di lingkungan masyarakat.

Baca juga !