Fri. Sep 30th, 2022

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Konektor Jadul Apple VS USB Type-C dan Tekanan Uni Eropa

2 min read

Jakarta – 21 September 2012 adalah hari besar bagi Apple, bukan hanya karena mereka merilis iPhone 5 pada tanggal itu, melainkan juga mereka mulai menggunakan konektor Lightning, meninggalkan konektor 30-pin yang dipakai di berbagai perangkat Apple sebelumnya.
Saat itu, kehadiran port Lightning ini terbilang revolusioner. Menggantikan konektor 30-pin yang besar dan sangat tak praktis. Dibandingkan dengan micro USB yang saat itu dipakai di perangkat Android, pun Lightning unggul di banyak sektor.

Keunggulan yang paling terasa adalah konektor Lightning ini bentuknya simetris dan bisa bisa dipakai tanpa takut terbalik. Apple pun mengklaim kalau port Lightning ini jauh lebih kuat.

“Ini adalah konektor baru yang akan dipakai selama beberapa tahun ke depan,” pungkas Phil Schiller, SVP Worldwide Marketing Apple saat itu.

Layaknya segala hal yang berbau Apple, mereka menjaga ketat aksesoris yang bisa memakai konektor ini. Semuanya harus menggunakan lisensi dari Apple, berbeda dengan micro USB yang standarnya terbuka.

Toh, hal itu tak menutup minat pabrikan aksesoris untuk menggunakannya, karena sampai saat ini masih banyak aksesoris yang menggunakan konektor tersebut.

Namun, kini sembilan tahun setelah Lightning dirilis, kondisinya tak lagi sama. Hampir semua perangkat Android sudah menggunakan port USB-C, sementara Apple bersikukuh mempertahankan Lightning di iPhone, bahkan di iPhone 13 yang baru dirilis.

Bahkan Apple sudah mulai menggunakan USB-C ini di iPad Pro keluaran 2018, baik pada varian 10,5 inch maupun 12,9 inch. Memang tak semua iPad sudah menggunakan USB-C, seperti iPad generasi ke-9 yang masih menggunakan Lightning, namun iPad Mini 6 sudah menggunakan USB-C (keduanya dirilis bersamaan).

Padahal dari segi spesifikasi, Lightning sudah jauh ketinggalan dari USB-C. Baik dari segi kecepatan transfer data maupun daya maksimal yang bisa dihantarkan. USB-C pun bentuknya sudah simetris seperti Lightning. Jadi sama-sama bisa dicolok bolak-balik.

Meski iPhone juga mungkin tak butuh-butuh amat daya charger yang lebih besar. Toh juga kapasitas baterainya jauh lebih kecil dari kebanyakan ponsel Android yang ada saat ini.

Tekanan dari Uni Eropa
Bahkan saat Apple ditekan Uni Eropa untuk meninggalkan Lightning dan pindah ke USB-C, mereka menolaknya dengan berbagai alasan. Salah satu alasan tersebut adalah pemaksaan ini akan menghambat inovasi produk.

Lalu alasan lainnya adalah langkah tersebut menurut Apple berpotensi menghasilkan lebih banyak sampah elektronik karena banyak konsumen yang akan membuang aksesoris Lightning jika aturan tersebut diterapkan.

Apple sendiri sudah cukup lama dikabarkan akan meninggalkan Lightning, tapi bukan menggantinya dengan standar konektor lain, melainkan menggunakan wireless charger untuk pengisian daya. Alias tak lagi menyertakan port apa pun untuk pengisian daya ataupun pengiriman data.

Sebenarnya konektor USB-C pun tak sempurna-sempurna amat. Ada satu masalah besar yang dihadapi oleh jenis konektor ini. Yaitu bermacam standar yang didukungnya.

Maksudnya adalah, ada jenis banyak konektor yang bentuknya USB-C, namun standar yang dipakainya bermacam. Bisa sekadar USB atau bisa juga Thunderbolt — baik Thunderbolt 3 ataupun 4. Port yang bertipe USB pun ada beberapa jenisnya, seperti USB 3.1 atau 3.2, yang berdampak pada kecepatan maksimalnya.

Bahkan dalam beberapa kasus, konektor USB-C ini hanya dipakai untuk menghantarkan audio. Seperti pada adapter USB-C to 3,5mm yang banyak disertakan dalam paket penjualan ponsel. Adapter seperti itu belum tentu bisa dipakai di perangkat lain, meski sama-sama menggunakan konektor USB-C.