Tue. Nov 29th, 2022

Nagabola.net

Informasi Seputar Berita Sepak Bola Terlengkap dan Terupdate Setiap Hari

Kondisi Terkini Myanmar: 1 Demonstran Tewas, 2 Warga Australia Ditahan

2 min read

Yangon –

Pasukan keamanan Myanmar menembak mati seorang pengunjuk rasa antikudeta pada Minggu (21/3). Di sisi lain, pemerintah Australia mengonfirmasi dua warga negaranya ditahan usai berusaha meninggalkan Yangon.

Seperti dilansir AFP, Minggu (21/3/2021) Myanmar berada dalam kekacauan sejak militer menggulingkan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi bulan lalu, dan memicu protes nasional yang menuntut kembali ke demokrasi.

Pasukan keamanan telah menanggapi dengan kekuatan mematikan, menggunakan peluru tajam, gas air mata dan peluru karet dalam upaya untuk menghentikan demonstrasi.

Menurut dua saksi mata, pada Minggu (21/3), seorang pria tewas di pusat kota Monywa dan sedikitnya dua orang cedera dalam bentrokan dengan pasukan keamanan di barikade.

“Saya melihat orang-orang membawa seorang pria yang ditembak dan tewas,” kata seorang penduduk setempat kepada AFP, seraya menambahkan mayat itu dibawa ke rumah sakit setempat.

“Mereka menggunakan granat setrum dan gas air mata. Kemudian mereka mulai menembak. Saya tidak tahu apakah orang itu, yang tewas di tempat setelah kepalanya dipukul, terbunuh karena peluru karet atau peluru tajam.” imbuhnya.

Warga Australia dalam Tahanan

Kementerian Luar Negeri Australia mengkonfirmasi bahwa pihaknya memberikan bantuan konsuler kepada dua warganya di Myanmar.

“Karena kewajiban privasi kami, kami tidak akan memberikan rincian lebih lanjut,” kata seorang juru bicara.

Diketahui bahwa dua konsultan bisnis, Matthew O’Kane dan Christa Avery, seorang warga negara ganda Kanada-Australia, berada dalam tahanan rumah setelah mencoba meninggalkan negara itu dengan penerbangan bantuan pada Jumat (19/3).

Pasangan itu menjalankan bisnis konsultasi pesanan di Yangon.

Seorang warga Australia lainnya, ekonom Sean Turnell, penasihat Suu Kyi, yang ditangkap seminggu setelah kudeta juga masih dalam tahanan.

Mandalay telah menjadi tempat terjadinya beberapa kekerasan terburuk dari polisi dan tentara sejak kudeta. Media lokal mengatakan unjuk rasa itu dilakukan saat fajar untuk menghindari pasukan keamanan.Kekerasan akhir pekan gagal menghalangi ratusan dokter dan perawat yang mengenakan ‘topi pelindung’ dan mengacungkan poster Suu Kyi saat mereka berbaris saat fajar melewati Mandalay, kota dan ibu kota budaya terbesar kedua di Myanmar.

Protes itu terjadi sehari setelah kelompok pemantau lokal mengkonfirmasi pembunuhan empat pengunjuk rasa di tangan pasukan keamanan di seluruh negeri. Menurut Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP), dua dari kematian itu terjadi di Yangon, pusat komersial negara itu.

Baca juga !