Wed. Jun 29th, 2022

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Harga Minyak Mentah Turun jadi USD 109,9, Dipicu Aksi Ambil Untung dan …

2 min read

Jakarta – Harga minyak mentah turun di perdagangan Asia pada Senin pagi karena investor mengambil keuntungan usai lonjakan pada sesi sebelumnya. Meski begitu, kekhawatiran pasokan global tetap membayangi dengan Uni Eropa bersiap untuk bertahap melarang impor dari Rusia.

Harga minyak mentah berjangka Brent turun 64 sen atau 0,6 persen menjadi US$ 110,91 per barel pada pukul 01.37 GMT. Adapun harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 60 sen atau 0,5 persen menjadi US$ 109,89 per barel.

Kedua harga acuan minyak yang menanjak sekitar 4 persen pada Jumat pekan lalu, 3 Mei 2022 itu, sebelumnya meningkat lebih dari US$ 1 per barel. Harga WTI pun mencapai level tertinggi sejak 28 Maret di US$ 111,71 per barel.

Kepala analis di Fujitomi Securities Co Ltd, Kazuhiko Saito, memperkirakan pasar minyak diperkirakan akan naik minggu ini. “Karena larangan yang tertunda oleh Uni Eropa terhadap minyak Rusia akan semakin memperketat pasokan minyak mentah dan bahan bakar global,” ujarnya.

Adapun Uni Eropa masih berupaya menyetujui embargo bertahap pada minyak Rusia bulan ini. Embargo dilakukan meski ada kekhawatiran tentang pasokan di Eropa timur, empat diplomat dan pejabat yang mengatakan pada Jumat lalu menolak saran penundaan atau memperlonggar proposal.

Sebelumnya, pada pekan lalu, Moskow – yang menyebut tindakannya di Ukraina “operasi militer khusus” – menjatuhkan sanksi pada beberapa perusahaan energi Eropa. Akibatnya, muncul kekhawatiran terhadap pasokan minyak mentah.

Namun di saat yang sama, bensin berjangka AS kembali mencatat rekor tertinggi sepanjang masa pada Senin karena penurunan stok memicu kekhawatiran pasokan. “Harga minyak tetap bullish, terutama kontrak jangka pendek WTI, karena harga bensin AS terus naik di tengah melemahnya impor produk minyak dari Eropa,” kata Saito dari Fujitomi Securities.

Perusahaan energi AS dalam seminggu terakhir hingga 13 Mei lalu telah menambahkan rig minyak dan gas alam selama delapan minggu berturut-turut. Hal tersebut dilakukan karena harga tinggi dan dorongan oleh pemerintah federal mendorong pengebor untuk kembali ke sumur minyak.

Sementara itu, kelompok negara-negara eksportir minyak (OPEC) dan sekutunya termasuk Rusia atau OPEC+ telah meremehkan rencana yang telah disepakati sebelumnya untuk peningkatan produksi. Pasalnya, ada kekurangan investasi di ladang minyak di beberapa anggota OPEC dan, baru-baru ini, penurunan dalam produksi Rusia.

Adapun laporan bulanan terbaru dari OPEC menunjukkan produksi minyak mentah pada April naik 153.000 barel per hari (bph) menjadi 28,65 juta barel per hari. Namun begitu, kenaikan itu masih lebih rendah dari yang diizinkan berdasarkan kesepakatan OPEC+ sebesar 254.000 barel per hari.

Baca juga !