Mon. Sep 26th, 2022

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Emiten Grup Sinar Mas Terpoles Aksi Korporasi, Mana yang Menarik Dikoleksi?

4 min read

JAKARTA. Emiten di bawah naungan grup konglomerasi Sinar Mas giat menggelar aksi korporasi. Di tengah kinerja bisnis komoditas, properti, dan keuangan yang masih solid, Grup Sinar Mas pun membetot perhatian pasar dalam ekosistem digital-teknologi.

Lewat PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), entitas grup Sinar Mas menyuntikkan investasi sebesar US$ 200 juta atau sekitar Rp 2,9 triliun ke PT Elang Andalan Nusantara, yang anak perusahaannya mengoperasikan platform dompet digital, DANA.

Tak hanya DSSA, emiten properti grup Sinar Mas, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) juga memperkuat investasi di ekosistem digital. Melalui entitas anak, PT Sinar Pertiwi Megah, BSDE juga menempatkan modal US$ 25 juta di PT Elang Andalan Nusantara.

Direktur BSDE Hermawan Wijaya mengungkapkan, masuknya DANA dalam portofolio investasi jangka panjang akan meningkatkan dan saling mendukung aktivitas pemasaran. Juga sebagai partner strategis dalam mengembangkan pembayaran elektronik yang terintegrasi.

“Selain akan meningkatkan literasi dan inklusi keuangan juga memberikan pengalaman digital yang lebih baik bagi konsumen kami. Sehingga akan memperkuat kinerja Perseroan di masa mendatang,” ujar Hermawan dalam rilis yang diterima Kontan.co.id, Jum’at (12/8).

Sebelumnya, kabar masuknya Grup Alibaba ke emiten telekomunikasi grup Sinar Mas, PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) juga direspons oleh pasar. Saham FREN melesat sekitar 40% sejak akhir Juli dan menembus level harga Rp 100. Kini saham FREN ada di posisi Rp 105.

Masih di sektor telekomunikasi, ada PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) yang pekan lalu baru mencatatkan saham (IPO), dengan menghimpun dana Rp 1 triliun. Saham MORA pun mampu menguat 46% dalam sepekan.

Emiten kawasan industri grup Sinar Mas, PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) juga sigap mencuil peluang dari pesatnya permintaan pusat data alias data center. Segmen ini menjadi pelanggan utama yang berkontribusi terhadap penjualan lahan industri DMAS di semester pertama 2022.

Di sisi lain, penguatan ekosistem berbasis digital tak membuat grup Sinar Mas menyisihkan pengembangan bisnis komoditas. Buktinya, DSSA melakukan akuisisi 20% saham Stanmore SMC Pty. Ltd. perusahaan batubara metalurgi asal Australia.

Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto melihat laba besar yang dihimpun grup Sinar Mas, khususnya dari sektor komoditas bisa dipakai sebagai modal ekspansi. Terutama penguatan bisnis berbasis teknologi. Pasalnya, pandemi mendorong laju pertumbuhan sektor teknologi semakin pesat, dan menyajikan prospek cemerlang di masa mendatang.

“Grup Sinarmas memiliki sumber daya yang mumpuni, tidak mau ketinggalan mencari peluang. Data sebaran penggunaan teknologi di Indonesia belum sebaik negara maju, sehingga masih banyak pangsa pasar yang dapat diserap dengan melebarkan sayap bisnis perseroan,” terang Pandhu kepada Kontan.co.id, Minggu (14/8).

Perkembangan positif tampak pada FREN yang sebelumnya merugi, tapi kini sudah mulai membukukan bottom line positif. Kemudian, IPO MORA pun menunjukkan keseriusan grup Sinar Mas dalam mengembangkan infrastruktur telekomunikasi.

Dilihat dari pola cashflow yang dimiliki, Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia Liza C. Suryanata menilai bahwa grup Sinar Mas punya kekuatan dana yang mumpuni untuk menggelar ekspansi. “Tak heran jika perusahaan luar seperti Alibaba pun tertarik untuk mendaratkan investasinya ke atas perusahaan yang solid dan kaya pengalaman,” kata Liza.

Adapun emiten grup Sinar Mas yang paling likuid dan aktif diperdagangkan adalah PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), FREN, DMAS, MORA, dan BSDE. Liza bilang, keenam emiten tersebut membukukan laporan keuangan apik dengan cashflow yang cukup kuat.

Secara bisnis, CEO Edvisor.id Praska Putrantyo memandang emiten grup Sinar Mas diuntungkan dengan kondisi pemulihan ekonomi pasca pandemi. Terutama pada sektor bisnis pertambangan, sawit, telekomunikasi, kertas, dan keuangan.

Kinerja keuangan yang positif mengindikasikan prospek cemerlang bagi emiten di sektor tersebut. Terlebih menjadi kian menarik bagi saham-saham dengan price to earning ratio (PER) dan price to book value (PBV) yang saat ini masih cenderung murah.

Menimbang hal tersebut, Praska pun memberikan rekomendasi beli terhadap saham FREN, INKP, TKIM, dan BSDE. “Fundamental bagus dan sektor bisnis menjanjikan. Ditambah kondisi teknikal masih belum mengalami apresiasi yang signifikan,” kata Praska.

Sementara itu, Pandhu menilai  sektor kertas dan properti menjadi yang paling menarik dilirik di antara emiten grup Sinar Mas. Hal ini menimbang valuasi yang masih relatif murah dibandingkan rata-rata historisnya, serta risikonya relatif rendah.

Sebagai gambaran, Pandhu mencontohkan BSDE pada level PBV 0,55x, sedangkan rata-rata 5 tahun ada di sekitar 0,9x. Lalu DMAS pada PBV 1,38x sedangkan rata-ratanya ada di 1,6x.

Di sektor kertas, INKP saat ini diperdagangkan pada level PE 4,3x dan 4,8x untuk TKIM, lebih rendah daripada rata-rata historisnya. “Bagi investor jangka panjang yang konservatif bisa pertimbangkan untuk koleksi saham-saham tersebut,” saran Pandhu.

Kemudian untuk emiten telekomunikasi FREN dan MORA, Pandhu juga menilai keduanya cukup menarik jika dilihat dari potensi pertumbuhan dan sektor yang sedang menjadi fokus grup Sinar Mas. Hanya saja, valuasinya cukup tinggi, sehingga saat ini Pandhu menyarankan keduanya lebih cocok untuk trading jangka pendek.

Saham FREN bisa dicermati pada area support Rp 101 dan resistance pada harga Rp 118. Adapun untuk MORA yang baru IPO, Pandhu merekomendasikan wait and see terlebih dulu.”Masih punya banyak potensi untuk pergerakan harga sahamnya, apalagi diprediksi kinerja akan terus membaik akibat pemulihan ekonomi dan demand akan produk kertas,” ujar Liza.

Adapun saham INKP yang tren pergerakan harganya masih relatif sideways, menyimpan potensi penguatan menuju target jangka pendek Rp 8.150-Rp 8.200 atau jangka menengah di Rp 8.500-Rp 8.600. Dengan syarat mampu break out resistance minor di area Rp 7.875.

Untuk TKIM, Liza memprediksi akan berusaha mengakhiri fase bottoming jangka pendek dan mematahkan tren turun jangka panjang. Apabila mampu naik ke target terdekat di Rp 6.750-Rp 6.825, sebelum merambah ke Rp 7.000–Rp 7.200 yang akan membalikkan pergerakan harganya menjadi uptrend.

Di samping itu, Liza juga menyoroti saham BSDE yang mempunyai potensi penguatan menuju target harga jangka pendek di Rp 980 – Rp 990. Average up bisa dilakukan di atas level Rp 1.000 apabila BSDE melanjutkan tren naik menuju target jangka menengah di Rp 1.050 – Rp 1.065.

Adapun untuk para investor maupun trader saham FREN, Liza menyarankan untuk mulai waspada. Ada kemungkinan konsolidasi yang lebih rendah dari target di Rp 98 untuk jangka pendek apabila support terdekat di Rp 104 jebol. Apalagi sudah ada negative divergence dari indikator relative strength index (RSI).

Baca juga !

2 min read