Mon. Oct 14th, 2019

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Virgin Orbit, Perusahaan Milik Branson Uji Coba LauncherOne

3 min read

NEW YORK – Virgin Orbit, perusahaan milik Richard Branson, menguji coba peluncuran roket LauncherOne dari pesawat Boeing 747 yang dimodifikasi. Nantinya roket itu digunakan untuk peluncuran satelit kecil dari ketinggian menengah, yakni 35.000 kaki. Uji coba tersebut dilakukan sebelum Virgin Orbit menawarkan peluncuran satelit kecil secara komersial dengan roket LauncherOne yang memiliki panjang 21,34 meter. 

Roket yang diisi dengan air dan dibekukan sebagai simulasi peluncuran itu jatuh di Gurun Mojave setelah diluncurkan Boeing 747 yang memiliki nama pendek Cosmic Girls. “Uji coba menjadi batu loncatan bagi langkah perusahaan untuk mengirimkan satelit ke orbit secara rutin,” kata CEO Virgin Orbit, Dan Hart, kepada Reuters, kemarin. “Uji coba ini menempatkan kita sebagai upaya pra-peluncuran,” ungkap Hart.

LauncherOne dipasang di sayap Cosmic Girl dan lepas landas dari Gurun Mojave. Setelah pesawat mencapai ketinggian 35.000 kaki, roket tersebut dilepaskan. Selama misi itu roket LauncherOne meluncur dan terbang ke orbit untuk menempatkan satelit sesuai dengan keinginan pelanggan Virgin Orbit. 

Sebagaimana dilansir CNN, Virgin Orbit mengatakan mereka memonitor proses pelepasan satelit untuk memudahkan teknisi mengamati bagaimana pergerakan roket. “Berdasarkan data sementara, uji coba ini berlangsung sangat sempurna,” kata Hart.Perakitan roket komersial pertama Virgin Orbit akan selesai pada akhir bulan ini. “Perusahaan juga berencana meluncurkan satelit ke orbit pada musim panas ini,” paparnya.

Kompetisi pada bisnis pengiriman satelit kecil memang sangat ketat. Selain Virgin Orbit, terdapat pula Firefly dan Rocket Lab, perusahaan kerja sama antara Amerika Serikat dan Selandia Baru. Hal itu dikarenakan permintaan pengiriman satelit kecil memang semakin banyak diminati. Sebenarnya performa Virgin Orbit memang tertinggal di belakang Rocket Lab yang telah menyelesaikan enam peluncuran satelit ke orbit. 

Namun Virgin Orbit mengklaim roket mereka memiliki berat dua kali lipat daripada Rocket Lab. LauncherOne mampu mengangkut satelit dengan berat 500 kg ke orbit bumi. LauncherOne dikembangkan sejak 2012 dan telah dikaji selama lebih dari satu dekade untuk uji coba. Uji coba mesin roket menjadi hal paling sulit karena memperhatikan presisi. Sebanyak 24 roket sudah diproduksi untuk memenuhi kepentingan pasar.

Hart mengungkapkan akuisisi dan merger juga memainkan peranan pada strategi pertumbuhan Virgin Orbit. Memang dia tidak menjelaskan pembelian aset Stratolaunch. Stratolaunch mendesain sistem roket dan pesawat dan mereka berencana menjual aset tersebut. Virgin Orbit menyatakan telah mendiskusikan hal itu di masa lalu, tetapi belum ada transaksi saat ini.

Virgin Orbit bulan lalu mengungkapkan rencana untuk membawa sistem peluncuran satelit ke Jepang dengan membangun kemitraan dengan maskapai ANA Holding. Hal itu untuk memudahkan proses pemeliharaan pesawat. Lokasi peluncuran juga akan dibangun di beberapa lokasi seperti Amerika Serikat, Guam, dan Inggris. Dengan begitu hal tersebut akan memberikan kemudahan bagi produsen satelit dan pemerintah jadi lebih fleksibel.

Peluncuran satelit dari ketinggian sedang menyebabkan satelit bisa ditempatkan sesuai dengan orbit yang diinginkan. Hal itu juga lebih efisien dan meminimalkan pembatalan karena faktor cuaca. “Kita bisa meluncurkan kapan pun baik di orbit Bumi atau Bulan dan diterbangkan dari mana pun di dunia ini,” paparnya.

Hart menegaskan banyak keuntungan peluncuran roket dengan sistem dari pesawat tradisional. Cosmic Girl bisa terbang di landasan bandara mana pun. Selain itu tidak perlu ada pemeliharaan lapangan lepas landas. Kemudian perusahaan tidak berkompetisi untuk mendapatkan prioritas jadwal peluncuran terlebih dahulu. Teknologi satelit kini semakin murah sehingga banyak pihak berlomba memiliki satelit di orbit Bumi. 

Teknologi untuk pengiriman satelit juga beragam. Menerbangkan roket juga kini semakin efisien. Virgin Orbit memang memisahkan diri dari perusahaan antariksa Branson lainnya, Virgin Galactic, pada 2017. Galactic lebih fokus pada penerbangan antariksa untuk manusia dan siap mengirimkan wisatawan untuk perjalanan singkat ke orbit Bumi.

Baca juga !