izmir escort alsancak escort izmir rus escort bornova escort buca escort escort izmir cratosslot baymavi vdcasino asyabahis tipobet Temuan Cadangan Baru Bikin Menteri Jonan Pede Tak Lagi Impor Gas – NagaBola.net
Sat. Oct 31st, 2020

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Temuan Cadangan Baru Bikin Menteri Jonan Pede Tak Lagi Impor Gas

1 min read

JAKARTA – Temuan cadangan baru di beberapa blok serta akan berproduksinya lapangan migas, membuat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan optimistis bahwa Indonesia tidak perlu mengimpor gas dalam waktu dekat ini. Blok migas Indonesia yang produksinya menjanjikan, antara lain Blok Masela di Maluku yang dikelola oleh Inpex dan Shell dengan cadangan diperkirakan sekitar 18,5 TCF.

“Inpex dan Shell akan segera mengembangkan gas (di Masela) yang cadangan terbuktinya 18,5 TCF. Ini sangat besar dan kandungan CO2 juga kecil,” ujar Menteri ESDM Ignasius Jonan di Jakarta.

Temuan lainnya adalah di Blok Sakakemang di Sumatera yang dikelola Repsol, cadangannya diperkirakan mencapai 2 TCF. Diharapkan dalam 3 tahun setelah cadangan ditemukan, blok ini sudah dapat berproduksi. “Kita mendorong Repsol dan kontraktor lainnya untuk melakukan eksplorasi migas baik di onshore maupun offshore,” tambah Jonan.
Selain blok-blok tersebut, Pemerintah juga mengharapkan agar proyek IDD juga dapat segera dikembangkan. Sebelumnya berdasarkan neraca gas bumi, Indonesia diperkirakan akan mengimpor gas. “Kita belum (perlu) impor gas. Soal neraca gas, ya itu bikinnya dulu waktu belum ditemukan banyak (cadangan gas baru),” paparnya.

Namun untuk LPG, lanjut dia, perlu dilakukan impor karena karakteristiknya yang berbeda. Dalam kesempatan tersebut, Menteri Jonan juga menekankan bahwa produksi gas Indonesia akan diutamakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Ditargetkan pada tahun 2025, sebanyak 50% produksi gas untuk domestik seperti industri dan kelistrikan.

“Gas juga sebaiknya tidak dijual ke lokasi yang terlalu jauh. Harus dimanfaatkan untuk pasar domestik, jangan terlalu jauh seperti Amerika Latin karena ongkos transportasinya besar,” kata Jonan.