Pelaku Bom Paskah Sri Lanka Terima Dana dari Pemerintah

Jakarta,Pelaku di balik aksi bom Paskah Sri Lanka disebut menerima dana bantuan dari badan intelijen negara. Hal itu disampaikan oleh mantan Gubernur Provinsi Barat sekaligus pemimpin Muslim terkemuka, Azath Salley, dalam penyelidikan kasus di parlemen. 

Pernyataan Salley menambah bukti kegagalan pemerintah untuk mengamankan negara. Serangan yang terjadi pada 21 April lalu itu menewaskan 258 orang di antaranya. 

Aksi dipimpin oleh Zahran hashim. Dia merupakan seorang ekstremis yang memisahkan diri dari Jemaah Thowheeth Sri Lanka untuk kemudian membentuk Jemaah Thowheeth Nasional. 

Melansir AFP, Salley mengaku telah berulang kali mengingatkan Presiden Maithripala Sirisena untuk mengambil tindakan terhadap kelompok tersebut. 

“Kementerian Pertahanan membayar Jemaah Thowheeth. Polisi bekerja sama dengan Jemaah Thowheeth,” ujar Salley. 

Salley mengatakan, pada masa pemerintahan Presiden Mahinda Rajapaksa, pemerintah mendanai Jemaah Thowheeth melalui badan intelijen negara. Praktik ini dilanjutkan oleh pemerintahan berikutnya. 

Dana tersebut, kata Salley, dianggarkan untuk memata-matai kelompok lain. 

Tak hanya itu, dalam keterangannya, Salley juga mengaku bertemu dengan para pejabat di Kementerian Pertahanan sepekan sebelum serangan. Dia mengingatkan mereka tentang kegiatan para ekstremis dan dampaknya pada bahaya yang akan datang. \

“Jika polisi mengambil tindakan atas informasi yang saya berikan pada saat itu, kita dapat menghindari serangan tersebut,” kata Salley. 

Komite Pemilihan Parlemen (PSC) telah mendengarkan beberapa keterangan dari sejumlah pejabat Kementerian Pertahanan. Mereka menyebut bahwa pihak berwenang gagal menerapkan rencana keamanan yang efektif. 

Sisirena sendiri memecat Kepala Dinas Intelijen, Sisira Mendis. Pemecatan dilakukan setelah Mendis menyebut bahwa penyerangan sesungguhnya dapat dihindari. 

Mendis juga mengatakan bahwa presiden telah gagal mengadakan pertemuan keamanan rutin untuk menial ancaman dari para ekstremis. 

Sirisena sendiri menolak untuk bekerja sama dengan PSC dalam pengusutan kasus ini.