Mon. Oct 21st, 2019

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

PDIP Kecewa Sampul Majalah Australia Jokowi ‘Bloody Hands’ Muncul Lagi

2 min read

 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang menaungi Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai kadernya menyayangkan kebijakan redaksi media Australia, The Courier Mail yang menampilkan ilustrasi Jokowi dengan tangan bersimbah darah di cover majalahnya.

Meski demikian, PDIP berharap hubungan antar negara Indonesia dengan Australia tetap baik.

Ilustrasi tersebut sebenarnya dibuat oleh The Courier Mail pada Mei 2015 dengan konteks protes keras atas eksekusi mati terhadap dua warga negara Australia, duo Bali Nine yakni Andrew Chan dan Myuran Sukumaran.

Namun sejumlah akun di media sosial mengkaitkan ilustrasi itu dengan narasi kerusuhan seperti di Papua dan aksi demonstrasi mahasiswa di DPR RI.

Kementerian Komunikasi dan Informatika juga pernah menemukan peristiwa serupa saat situasi politik pasca-pemilu presiden sedang memanas 22-24 Mei 2019 lalu.

Oleh karena itu, Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto berharap ilustrasi yang kembali ramai di media sosial itu tidak menganggu hubungan diplomasi yang selama ini terbangun baik antara Indonesia dan Australia.

“Ya di antara hubungan dengan negara tetangga sebaiknya saling menghormati. Tidak boleh ada sebuah upaya atau komunikasi politik yang mengganggu persahabatan kedua negara,” kata Hasto Kristiyanto saat ditemui di Pondok Pesantren Al Tsafaqah di Jakarta Selatan, Selasa (8/10/2019).

PDIP menyerahkan tugas ini sepenuhnya kepada Menteri Luar Negeri Retno Marsudi untuk menjaga hubungan baik dengan Australia.

“Sehingga tidak ada hal-hal yang kurang tepat diplomasi negara tetangga, kami percayakan kepada Menteri Luar Negeri kita Ibu Retno,” kata Hasto.

Diketahui, The Courier Mail pernah membuat satu majalah edisi spesial dengan sampul ilustrasi foto Jokowi yang tengah mengenakan jas kepresidenan sambil melambaikan tangan yang berlumuran darah dan dilengkapi tulisan headline “BLOODY HANDS”.

Hal itu dibuat The Courier Mail sebagai bentuk protes keras atas eksekusi mati terhadap dua warga negara Australia, duo Bali Nine Andrew Chan dan Myuran Sukumaran