You are here
Tentara Suriah Bebaskan 19 Wanita dan Anak-anak yang Disandera ISIS INTERNASIONAL 

Tentara Suriah Bebaskan 19 Wanita dan Anak-anak yang Disandera ISIS

DAMASKUS – Tentara Suriah berhasil membebaskan 19 wanita dan anak-anak komunitas Druze yang diculik dan disandera ISIS. Mereka diculik ketika kelompok ekstremis itu menyerang kota Sweida dan desa-desa di sekitarnya pada Juli lalu.

Keberhasilan operasi tentara Suriah itu disiarkan stasiun televisi pemerintah setempat pada Kamis malam.

Dalam serangan di Sweida, kelompok Islamic State atau ISIS menangkap sekitar 30 orang dan menewaskan lebih dari 200 orang. Selain itu ada juga aksi militannya yang meledakkan diri dengan rompi bom.

Para sandera itu dibebaskan dari lokasi penyanderaan di wilayah timur laut kota  Palmyra setelah militer Suriah bertempur dengan para ekstremis ISIS.

Pada Oktober lalu, tentara loyalis Presiden Bashar al-Assad tersebut juga membebaskan enam sandera lainnya dari komunitas yang sama.

Kelompok pemantau krisis Suriah, Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan pada Agustus lalu bahwa salah satu sandera dari komunitas Druze telah dieksekusi penggal oleh ISIS.

Sweida, yang berada di bawah kekuasaan negara, memiliki komunitas Druze. Pemimpin otoritas Druze dan ISIS pernah mengadakan perundingan untuk membebaskan para sandera. Namun, hasil perundingan tak diketahui hasilnya.

Mengutip Reuters, Jumat (9/11/2018), pada akhir bulan Oktober Moskow berusaha untuk menegosiasikan kesepakatan dengan ISIS. Moskow juga dilaporkan merekrut pemuda di Sweida Suriah dan mendaftarkan mereka dengan wajib militer Suriah sebagai imbalan atas pembebasan para wanita yang diculik yang ditahan oleh kelompok ekstremis.

Penduduk Sweida sejatinya berada dalam kubu yang menentang perang Suriah, karena banyak dari kaum muda mereka berada dalam layanan militer negara tersebut.

Laporan lain yang dilansir Sputnik mengungkapkan ada kesepakatan lain antara pasukan rezim Assad dan ISIS untuk membebaskan enam korban penculikan, dengan imbalan 17 anggota ISIS yang ditahan oleh rezim dibebaskan. Tanggal pelaksanaan kesepakatan itu tidak diungkap.

Kesepakatan itu muncul 24 jam setelah penandatanganan perjanjian gencatan senjata pertama di Tulul al-Safa, sebuah wilayah pegunungan di timur Sweida.

Related posts

Leave a Comment