You are here
Romantisme Tiga Dekade Sebastian Gunawan Fashion 

Romantisme Tiga Dekade Sebastian Gunawan

JAKARTA – Desainer Sebastian Gunawan sudah berkarier selama 25 tahun, namun ia seolah tak pernah kehabisan ide. Dalam koleksi terbarunya, “Whisper/Roar”, Seba, begitu ia biasa dipanggil kembali menyuguhkan deretan busana couture dalam detail tingkat tinggi.

Seba bersama dengan sang istri sekaligus partner kreatifnya, Christina Panarese, memilih tema Whisper/Roar dalam peragaan busana yang digelar di Ritz Carlton Jakarta pada (10/10) malam.

Tema itu memiliki filosofi ‘dari bisik-bisik’, semakin nyaring, dan berubah menjadi sebuah ‘gemuruh’ seiring perjalanan lebih dari tiga dekade Sebastian Gunawan sebagai label.

“Barisan koleksi yang dipersembahkan seolah menelisik rancangan sejak semula, semakin berkembang, dan menjadi besar, yang ditandai dengan rancangan-rancangan bersiluet dramatis, detail artistik, serta penggunaan bahan yang diolah kembali dengan sangat menakjubkan,” kata Seba dalam rilis yang ia berikan.

Model memeragakan busana rancangan Sebastian Gunawan saat peragaan busana bertajuk Whisper/Roar  di Grand Ballroom Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Selasa (10/10/2017). Peragaan busana dalam rangka 25 tahun Sebastian Gunawan berkarya menampilkan 82 rancangan. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
KRISTIANTO PURNOMO Model memeragakan busana rancangan Sebastian Gunawan saat peragaan busana bertajuk Whisper/Roar di Grand Ballroom Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Selasa (10/10/2017).

Seba dan Cristina memilih mengeksplorasi kekayaan romantisme gaya berbusana era tahun 40an, tahun 50an, dan tahun 60an di Eropa dalam 82 rancangannya yang memiliki ragam potongan: A-line, celana, gaun, jaket pendek, jaket panjang, fitted, duyung, serta dress jumper.

Romantisme tiga dekade itu direpresentasikan menjadi gaya dengan cita rasa dan aroma masa kini yang tak meninggalkan keragaman siluet, pilihan bahan (tipis, tebal, kilap, halus, dan kaku), pengerjaan detail dan jangkauan palet warna.

Eropa memang menjadi bagian dari inspirasi pasangan suami istri itu dalam merancang busana. Keduanya tertarik pada ketrampilan tangan yang tinggi, seperti kecakapan dalam melipat, kecantikan motif, serta tekstur yang dihasilkan dari olahannya, hingga keindahan leret warna yang menjadi benang merah koleksi.

Ketertarikan itu mempertemukan Sebastian dan Cristina pada eksotisme Asia dalam mengolah detail dengan romantisme busana Eropa yang memiliki kekayaan tekstil dan tekstur bahan yang begitu variatif.

Model memeragakan busana rancangan Sebastian Gunawan saat peragaan busana bertajuk Whisper/Roar  di Grand Ballroom Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Selasa (10/10/2017). Peragaan busana dalam rangka 25 tahun Sebastian Gunawan berkarya menampilkan 82 rancangan. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
KRISTIANTO PURNOMO Model memeragakan busana rancangan Sebastian Gunawan saat peragaan busana bertajuk Whisper/Roar di Grand Ballroom Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Selasa (10/10/2017).

Sisi menarik dari rancangan Sebastian dan Cristina kali ini adalah permainan sisi lengan dengan bentuk lurus, bervolume, bertumpuk, pendek, panjang–yang tampil dalam gaya siluet.

Kreasi lengan itu kemudian terbagi dalam tiga dekade dengan ciri masing-masing. Pada tahun 1940an, nampak dalam siluet gaun lurus yang seakan berbisik tenang namun sekaligus meneriakkan tawaran baru lewat detail bergambar malaikat kecil yang tersusun dari butiran swarovski.

Sementara inspirasi gaya New Look tahun 1950an dihadirkan dalam rancangan rok lebar mengembang dari bahan lace kaku berlengan pof yang diperkaya dengan detail pita yang dilipat, ditekuk, dijahit tindas, di seluruh bagian busana.

Adapun, penggunaan bahan kaku dan crispy ala tahun 60an menggenapkan koleksi dari Whisper/Roar ini.

Representasi tempo dulu juga disebut terlihat dalam tampilan bahan, mulai dari Damask, bahan tebal bertekstur dan bermotif dari hasil tenun; Mikado, jenis sutra mewah dan berat yang cocok untuk memberi struktur gaun; Sifon, Lame Matelasse, Lace, Sequin, bahan dengan kepingan-kepingan kecil yang dijahitkan diseluruh permukaannya; hingga sejenis kulit imitasi yang memberi nilai tambah pada penampilan busana.

Sisi detail dalam koleksi busana ini terlihat dalam keterampilan tinggi dalam memasang kristal, membubuhkan manik, menyusun payet, hingga menekuk pita yang djalin seperti anyaman.

Peragaan busana yang ditutup dengan dua gaun pernikahan berwarna putih yang membuat mata sulit berpaling karena sisi keanggunan dan kemewahannya. Dua gaun ini memberi efek glamor dengan detail kristal yang berkelip di bawah sorotan lampu.

Related posts

Leave a Comment