izmir escort alsancak escort izmir rus escort bornova escort buca escort escort izmir cratosslot baymavi vdcasino asyabahis tipobet El Paso Tolak Trump hingga Lemparan Granat di Demo Hong Kong – NagaBola.net
Mon. Oct 26th, 2020

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

El Paso Tolak Trump hingga Lemparan Granat di Demo Hong Kong

2 min read

Jakarta,  Sejumlah peristiwa meramaikan kabar dunia pada Selasa (7/8), mulai dari penolakan warga El Paso, Texas, terhadap rencana kedatangan Presiden Donald Trump pascapenembakan hingga demonstrasi Hong Kong yang kian ricuh sampai aparat melemparkan granat.

1. Warga El Paso Tolak Kedatangan Donald Trump

Gerah dengan pernyataan anti-imigran Trump selama ini, warga El Paso pun menolak rencana kedatangan Trump usai penembakan yang menewaskan setidaknya 22 orang pada akhir pekan lalu.

“Presiden, yang menciptakan kebencian yang memungkinkan tragedi Sabtu itu terjadi, tidak seharusnya datang ke El Paso,” ujar mantan anggota Kongres dari Partai Demokrat yang tumbuh di kota tersebut, Beto O’Rourke.

Sebelum melakukan penyerangan, pelaku memang sempat mengunggah pernyataan bernada rasial, yaitu “berusaha melawan invasi kaum Hispanik [Amerika Latin] di Texas.”

Para kritikus menyandingkan kalimat tersebut dengan beberapa pernyataan Trump yang kerap menggambarkan penerobosan perbatasan oleh kelompok imigran Hispanik sebagai “invasi”.

Namun, setelah rangkaian penembakan pada akhir pekan lalu, Trump melunakkan nada bicaranya. Ia bahkan mengutuk segala bentuk rasisme dan ideologi supremasi kulit putih.

2. Demo Rusuh Hong Kong, 148 Pengunjuk Rasa Ditangkap

Ketegangan juga masih merundung Hong Kong yang lumpuh akibat aksi demonstrasi besar-besaran sejak akhir pekan lalu.

Para demonstran penolak rancangan undang-undang ekstradisi terus berunjuk rasa sampai-sampai aparat harus melemparkan granat spons untuk membubarkan massa.

Kepolisian Hong Kong juga terpaksa melepaskan sekitar 800 tembakan gas air mata pada Senin. Total ada 1.000 tembakan gas air mata yang telah dilepaskan dalam dua bulan belakangan.

Aparat pun menahan 148 pengunjuk rasa pada Senin. Jumlah ini menjadi yang terbanyak sejak unjuk rasa dimulai dua bulan lalu.

Berawal dari penolakan rancangan undang-undang ekstradisi, demonstrasi tersebut berkembang dengan tuntutan untuk membebaskan diri dari China.

3. Indonesia Desak China Segera Atasi Rusuh di Hong Kong

Indonesia pun mendesak China untuk segera mencari cara menangani demonstrasi besar-besaran yang telah berlangsung di Hong Kong sejak awal Juni lalu.

Plt juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Teuku Faizasyah, mengatakan bahwa gangguan perekonomian yang disebabkan unjuk rasa di Hong Kong tidak hanya akan merugikan China dan wilayahnya itu tapi juga kawasan.

“China dengan kebijakan satu negara dengan dua sistem harus bisa mencari cara menangani situasi ini (di Hong Kong). Setiap gangguan ekonomi yang muncul tidak hanya akan mempengaruhi China dan Hong Kong tapi juga kawasan,” kata Faizasyah dalam jumpa pers rutin di kantornya, Selasa (6/8).

Faizasyah juga mengimbau agar seluruh 174.800 WNI di Hong Kong untuk menghindari keramaian dan tempat massa berkumpul.Ia meminta WNI di sana untuk tidak melakukan aktivitas yang bisa membahayakan keamanan dalam situasi seperti ini.

Baca juga !