Sun. Apr 11th, 2021

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Antisipasi Aksi Kekerasan, Polisi Jaga Ketat Bioskop

4 min read

NEW YORK – Film Joker memang fenomenal karena berhasil meraup Rp1,3 triliun hanya pada pemutaran akhir pekan ini. Namun, di tengah kesuksesannya, Film besutan Warner Bros ini ternyata menimbulkan kekhawatiran publik bisa memicu kekerasan di bioskop, seperti penembakan massal.

Karena itu, aparat kepolisian di kota-kota besar di Amerika Serikat (AS) meningkatkan keamanan sejak film Joker mulai ditayangkan di bioskop. Mereka mengantisipasi potensi munculnya kekerasan akibat menonton film Joker. Film Joker yang aslinya merupakan karakter di komik Batman dibintangi Joaquin Phoenix, disebut sebagai kritikus sebagai film sukses dan cerdas.

Namun, performa film tersebut dianggap membahayakan karena mengangkat isu kesehatan mental dan tindak kekerasan di luar batas normal. Joker juga diasosiasikan dengan penembakan massal pada 2012 di sebuah bioskop di Aurora, Colorado, Denver, saat penayangan film Batman, The Dark Knight Rises.Tragedi itu menewaskan 12 orang. Keluarga korban penembakan memberikan perhatiannya terhadap film tersebut. Film Joker pun tidak akan ditayangkan di bioskop di wilayah Aurora sebagai penghormatan kepada keluarga korban yang masih trauma. Para petugas kepolisian mengenakan helm dan senapan laras panjang di luar bioskop yang menayangkan Joker pada Festival Film New York, Rabu malam lalu (2/10).

Para penonton juga diperiksa termasuk tasnya. Petugas dengan anjing pelacak juga ikut diterjunkan. Insiden terbaru terjadi pada Jumat malam (4/10) lalu di sebuah bioskop AMC Empire 25 di Times Square, Manhattan, New York. Seorang pria berteriak keras dan bertepuk tangan ketika ada adegan pembunuhan pada film Joker.

Itu mengakibatkan beberapa penonton lainnya memilih keluar. “Penonton lainnya juga berteriak kepada pria aneh itu,” kata Nathanael Hood, salah satu penonton film Joker di bioskop tersebut. “Saya sangat takut. Saya yakin banyak orang berada di sana,” tuturnya. Biro Penyidik Federal (FBI) telah meminta lembaga kepolisian untuk memonitor ancaman yang dipublikasikan secara daring terkait film Joker.

Beberapa orang sangat khawatir Joker mampu menginspirasi kekerasan. Aparat kepolisian di New York, Los Angeles, dan Chicago juga mengungkapkan tidak ada ancaman spesifik berkaitan dengan pemutaran Joker. Namun, mereka menempatkan petugas tambahan untuk memonitor bioskop yang memutar film tersebut.

Situs berita Hollywood, Deadline, mengutip sumber penegak hukum di New York, mengungkapkan bahwa polisi berpakaian sipil juga ditempatkan di dalam bioskop New York. Namun, Dinas Kepolisian New York tidak mengonfirmasi laporan tersebut. Tidak semua orang sepakat dengan pengamanan berlebihan tersebut.

Charles Kiwacz, 31, mengutarakan penembakan Aurora merupakan insiden yang berbeda. “Saya tidak berpikir ada banyak ketakutan (di bioskop). Saya pikir justru sebaliknya, orang ingin ke bioskop untuk menonton televisi,” kata produser dan host podcast yang membeli tiket Joker di Times Square.

Tyson Sheehan, 32, mahasiswa di Los Angeles asal Australia, mengaku akan menonton film tersebut setelah menonton cuplikannya. Dia hanya mengungkapkan, kekurangan di AS adalah undang-undang senjata yang memperbolehkan pembelian senjata dan pengecekan yang tidak terlalu ketat. “Itu (faktor undang-undang senjata) memaksa saya untuk tidak pergi ke bioskop dulu, minimal pekan pertama atau kedua,” katanya.

Kostum dan penutup wajah juga dilarang digunakan oleh penonton film Joker di dua jaringan bioskop AS, AMC dan Landmark. Jaringan bioskop Alamo Drafthouse memperingatkan orang tua agar tidak membawa anak mereka menonton film Joker. The Parents Television Council (PTC), lembaga pemantau media, juga memberikan peringatan serupa.

“Orang tua seharusnya menganggap film ini memang tidak layak bagi anak-anak, meskipun ini adalah kepanjangan dari film waralaba Batman,” demikian keterangan PTC. Studio film Warner Bros memperingatkan film itu bukan dukungan bagi kekerasan di dunia nyata. “Itu bukan maksud film, sutradara atau studio yang menganggap karakter itu sebagai pahlawan,” demikian keterangan Warner Bros.

Raih Rp1,3 Triliun Selama Akhir Pekan

Di tengah kontroversi tersebut, Joker mampu meraih USD93,5 juta (Rp1,3 triliun) selama penayangan akhir pekan lalu. Itu menjadi film meraih pendapatan tertinggi dalam sejarah film Hollywood. Padahal, film tersebut baru dirilis awal Oktober ini. Joker mampu mengalahkan Venom yang sebelumnya mampu memegang rekor USD80,2 juta (Rp1,1 triliun).

Joker juga menjadi film yang mampu meraih tiket penjualan USD39 juta untuk Kamis malam (3/10) dan Jumat malam lalu. Secara internasional, film tersebut mampu meraih pendapatan USD140,5 juta. Total pendapatan Joker hingga Minggu (6/10) mencapai USD234 juta (Rp3,3 triliun).

Melansir CNBC, Joker mampu melebihi prediksi. Banyak pihak menilai film itu hanya mampu meraih USD50 juta selama penayangan awal. Namun, banyak pihak juga menilai optimistis saat film itu bisa mencapai USD100 juta atau lebih.

“Ketika cuplikan film dirilis, Joker mampu menjadi film yang diperbincangkan tahun ini,” kata Paul Dergarabedian, analis media sosial di Comscore. Dia menambahkan, Joker menjadi film yang harus ditonton, meskipun banyak menghadapi kritik pedas. “Akting Joaquin Phoenix dan kontroversi film juga menarik perhatian,” katanya.

Joker juga mendapat penilaian 69% di situs kritik film Rotten Tomatoes. Sutradara Todd Phillips juga mendapatkan pujian dari segi cerita dan penyutradaraan, meskipun banyak orang menganggap kalau Joker bisa dianggap sebagai pahlawan atau figur yang inspirasional.

Sutradara Joker, Todd Phillips, mengkritik orang yang menyerang film itu tanpa melihatnya lebih dahulu. “Saya tidak membayangkan tingkat wacana yang diraih di dunia ini, sejujurnya,” ujar Phillips, dilansir Variety.

“Saya pikir sungguh baik kalau film itu memicu percakapan dan perdebatan. Film adalah sebuah pernyataan, dan sangat baik membicarakannya, tetapi sangat membantu jika kamu melihatnya lebih dahulu,” jelasnya. Phillips berharap filmnya menginspirasi diskusi tentang senjata, kekerasan, dan perawatan bagi orang yang menderita penyakit mental.