Tue. Jan 19th, 2021

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

Ancang-ancang Kebijakan Penyelamatan Trump Usai Ramalkan Banyak Kematian

2 min read

Washinton DC –

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memprediksi angka kematian akibat virus Corona (COVID-19) di negara yang dipimpinnya akan melonjak. Trump menyebut AS akan menghadapi kondisi terberat.

Seperti yang dilansir AFP, Minggu (5/4/2020), kasus positif virus Corona di Amerika Serikat sudah melampaui 300.000. Jumlah kematian di AS akibat virus Corona menyentuh angka 8.300 orang.

“Ini mungkin akan menjadi pekan terberat. Akan ada banyak kematian,” kata Trump di Gedung Putih, Sabtu (4/4) waktu setempat.

Trump memastikan kebijakan yang ditetapkan tidak akan menghancurkan AS. Namun, dia mengakui ada sejumlah keputusan sulit yang harus ditentukan.

“Mitigasi berhasil, tetapi sekali lagi kita tidak akan menghancurkan negara kita. Saya sudah mengatakannya sejak awal – obatnya tidak bisa lebih buruk dari masalahnya,” ungkap Trump.

“Pada titik tertentu beberapa keputusan sulit harus dibuat,” imbuhnya.

Data terakhir jumlah kasus positif virus Corona di AS yakni sebanyak 311.637. Menurut data yang dirilis Johns Hopkins University seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (4/4), sebanyak 1.480 kematian tercatat di AS antara Kamis (2/4) pukul 20.30 waktu setempat hingga Jumat (3/4) pada jam yang sama.

Trump juga telah mengingatkan tentang dua pekan mendatang yang sangat menyakitkan. Dia mengimbau seluruh warga AS untuk bersiap menghadapi hari-hari sulit ke depan.

“Ini akan menjadi dua pekan yang sangat menyakitkan, sangat, sangat menyakitkan,” kata Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih.

“Saya ingin semua warga Amerika bersiap untuk hari-hari sulit yang ada di depan,” imbuh Trump.

Sementara itu, Eropa terus menyumbang lebih dari 45.000 kematian di seluruh dunia. Inggris melaporkan tingginya angka kematian baru setiap hari.

Sekarang ada lebih dari 1,17 juta kasus virus Corona terkonfirmasi di seluruh dunia dan telah ada 63.437 kematian sejak virus muncul di Cina akhir tahun lalu.

Miliaran orang di dunia hidup dalam kebijakan lockdown. Hampir setengah populasi dari planet ini terkurung di rumah, sekolah dan bisnis tutup, yang akibatnya menghantam ekonomi global.

Baca juga !