Sat. Sep 26th, 2020

NagaBola.net

informasi Berita Bola 24 Jam

4 Orang Dibui di Vietnam Terkait Kasus 39 Mayat dalam Truk di Inggris

5 min read

Hanoi –

Empat orang dipenjara di Vietnam karena keterlibatan mereka dalam kematian 39 migran yang ditemukan di dalam truk kontainer berpendingin di Essex, Inggris, pada Oktober tahun lalu, menurut laporan media resmi pemerintah.

Pria, perempuan dan anak-anak ditemukan meninggal karena asphyxia, atau kekurangan oksigen, dan hipotermia pada tanggal 23 Oktober, menurut laporan yang dibuat oleh Inggris.

Empat orang yang dipenjara dinyatakan bersalah “mengorganisir ilegal emigrasi” setelah sidang satu hari di Ha Tinh, lapor VnExpress.

Media resmi pemerintah tersebut menyebut salah satu korban membayar US$ 22.000 (sekitar Rp 326 juta) untuk perjalanan ilegal itu.

Empat terpidana – berusia antara 24 sampai 36 tahun – dihukum antara dua setengah tahun sampai tujuh setengah tahun penjara. Tiga lainnya dijatuhi hukuman percobaan.

 

‘Asphyxia dan hipotermia’

Jenazah 39 warga Vietnam ditemukan di truk berpendingin.

Jenazah 39 warga Vietnam ditemukan di truk berpendingin. (PA Media)

Jenazah warga negara Vietnam ini ditemukan di kawasan industri tak lama setelah truk berpendingin itu tiba di Inggris melalui feri dari Zeebrugge di Belgia.

Sepuluh orang remaja – dua di antaranya laki-laki berusia 15 tahun – termasuk yang meninggal.

Bulan lalu, supir truk, Ronan Hughes, 40, dari Tyholland, County Monaghan, Inggris mengakui dakwaan pembunuhan tidak direncanakan dan berkonspirasi dalam pengiriman migran ilegal.

Sementara, terdakwa lain, Gazmir Nuzi, 42, yang tinggal di London utara, mengaku bersalah membantu mengirimkan tenaga kerja ilegal.

Pada awal tahun ini, supir truk lain, Maurice Robinson, 25, dari Craigavon, County Armagh, mengaku bersalah atas 39 dakwaan pembunuhan tidak direncanakan dan konspirasi mengirim tenaga ilegal.

Harrison akan diadili dalam sidang yang akan dimulai pada 5 Oktober dengan tiga terdakwa lain.

Tiga terdakwa itu termasuk Gheorghe Nica, 43, yang menyanggah dakwaan serta, Valentin Calota, 37, dan Christopher Kennedy, 23, yang menyanggah konspirasi membantu pengiriman tenaga ilegal.

Akhir Mei lalu, petugas keamanan menangkap 26 orang di Belgia dan Perancis terkait kematian 39 imigran itu.

Sebanyak 13 orang, termasuk warga negara Maroko dan Vietnam, kini ditahan di Brussels dan 13 orang lainnya di Paris, kata penegak hukum.

Penuntut dari Belgia mengatakan para tersangka kemungkinan ‘membawa puluhan orang setiap hari selama beberapa bulan’.

Menurut mereka, jaringan penyelundupan orang tersebut dicurigai memfasilitasi kedatangan para imigran asal Vietnam pada 2019.

Badan Kerjasama Keadilan Kriminal Uni Eropa (Eurojust) mengatakan bahwa kepolisian telah melaksanakan penggerebekan lintas batas pada Selasa (26/05) pagi dalam sebuah operasi yang melibatkan empat negara: Inggris, Perancis, Belgia, dan Irlandia, serta Europol.

Sejumlah orang telah ditahan sebelumnya terkait kematian para imigran tersebut, termasuk beberapa tersangka di Vietnam.

SMS, Kematian, truk kontainer, imigran Vietnam, Inggris

Sebanyak 39 orang imigran asal Vietnam ditemukan meninggal di truk kontainer berpendingin pada Oktober 2019 di Inggris (PA Media)

‘Saya tidak bisa bernapas’

Salah satu korban adalah Pham Thi Tra My, 26, yang hilang kabarnya sejak ia mengirimkan SMS pada Selasa 22 Oktober 2019 dan mengatakan ia tidak bisa bernapas di kontainer kulkas dengan suhu dapat mencapai -25C.

Abang Tra My, Pham Ngoc Tuan, mengatakan mereka membayar sekitar Rp 500 juta kepada penyelundup untuk membawa adiknya ke Inggris. Lokasi terakhir dia adalah di Belgia.

Para penyelundup diketahui telah mengembalikan uang kepada sejumlah keluarga.

Terkait temuan 39 jenazah tersebut, seorang sopir truk telah dijerat dengan tuduhan pembunuhan tidak terencana.

“Saya tak bisa bernapas”

Abang Tra My juga mengatakan kepada BBC, “Adik saya hilang pada tanggal 23 Oktober dalam perjalanan dari Vietnam ke Inggris dan kami tak dapat mengontaknya. Kami khawatir dia berada di kontainer itu.”

“Kami bertanya kepolisian Inggris untuk membantu menyelidiki sehingga adik saya bisa dikembalikan ke keluarga kami,” tambahnya.

Pesan terakhir yang diterima dari Tra My adalah pada pukul 22:30 waktu setempat Selasa (22/10), dua jam sebelum kontainer itu tiba di terminal Purfleet dari Zeebrugge, Belgia.

Keluarganya menunjukkan SMS yang ia kirim ke orang tuanya dan berbunyi, “Maaf sekali, maafkan saya ibu dan bapak, perjalanan saya ke negeri asing gagal.”

“Saya sekarat, saya tak bisa bernapas. Saya sangat sayang ibu dan bapak. Maafkan saya, ibu.”

Kontainer berisi jenazah.

39 jenazah ditemukan pada Rabu (23/10) pagi. (PA Media)

Abang Tra My mengatakan kepada BBC bahwa perjalanannya ke Inggris dimulai pada tanggal 3 Oktober. Ia mengatakan keluarganya tak dapat mengontaknya karena “orang yang mengurus” tidak mengizinkannya menerima telpon.

“Dia terbang ke China dan berada di sana dua hari dan kemudian terbang ke Prancis,” kata abang Tra My.

“Dia mengontak kami setiap dia sampai pada satu tujuan. Upaya pertama menyeberang ke Inggris dilakukan pada 19 Oktober, namun ia ditangkap dan dikembalikan. Saya tak tahu pelabuhan mana.”

BBC telah menyerahkan rincian tentang Tra My, 19, yang berasal dari kota Nghen, provinsi Ha Tinh, ke kepolisian Essex, serta rincian lain dari pihak yang mengklaim memiliki informasi.

Abang Tra My mengatakan adiknya menelpon pukul 07:20 waktu Belgia pada Selasa (22/10) dengan mengatakan ia akan masuk ke kontainer dan mematikan telepon untuk menghindari terdeteksi. Sejak itu ia tak terdengar lagi.

Ia mengatakan seorang penyelundup telah mengembalikan uang kepada keluarganya pada malam itu. Keluarga warga Vietnam lain berusia 26 tahun yang melakukan perjalanan yang sama juga telah menerima uang kembali.

Sementara itu, keluarga Nguyen Dinh Luong, juga mengatakan mereka khawatir warga Vietnam berusia 20 tahun itu termasuk 39 jenazah yang ditemukan.

Juru bicara kedutaan Vietnam di London memastikan mereka telah mengontak kepolisian Essex.

VietHome, organisasi yang mewakili komunitas Vietnam di Inggris mengatakan sejauh ini mereka telah menerima foto dari hampir 20 orang yang melaporkan anggota keluarga mereka hilang sejak truk itu ditemukan.

Korban di dalam kontainer adalah 31 pria dan delapan perempuan, menurut kepolisian Essex yang pada awalnya mengira mereka semua berasal dari China.

Jenazah di kontainer itu ditemukan di daerah industri Grays pada pukul 01:40 waktu setempat, Rabu 23 Oktober 2019.

Dalam jumpa pers, pejabat polisi Pippa Mills mengatakan pihaknya tidak akan mengeluarkan kewarganegaraan korban sampai proses identifikasi selesai.

Data GPS menunjukkan kontainer kulkas itu melintas bolak balik dari Inggris dan Eropa daratan beberapa hari sebelum ditemukan.

Kontainer itu dipinjam dari Global Trailer Rentals pada 15 Oktober. Perusahaan itu mengatakan mereka “sama sekali tidak mengetahui bahwa truk itu akan digunakan untuk keperluan yang telah terungkap.”

Kepolisian Essex mengatakan bagian depan dari truk itu masuk ke Inggris melalui Holyhead -pelabuhan laut Irlandia di Wales pada hari Minggu 20 Oktober, dalam perjalanan dari Dublin.

Suhu di kontainer kulkas itu dapat mencapai -25C. Truk itu kini diamankan di Essex.

Sopir truk didakwa melakukan pembunuhan tidak terencana

Sopir truk tersebut, Maurice Robinson, telah dijerat dengan tuduhan pembunuhan tidak terencana.

Pria berusia 25 tahun itu ditangkap setelah mayat 31 laki-laki dan delapan perempuan ditemukan di kota Grays pada hari Rabu (23/10).

Pria asal Laurel Drive, Craigavon, Irlandia Utara itu juga dijerat dengan tuduhan perdagangan manusia serta pelanggaran imigrasi dan pencucian uang, kata Kepolisian Essex.

Tiga orang lainnya, seorang laki-laki dan perempuan, keduanya berusia 38 tahun, serta seorang pria berumur 48 tahun dari Irlandia Utara masih ditahan polisi.

Mereka bertiga ditangkap atas dugaan pembunuhan tidak terencana dan konspirasi untuk memperdagangkan manusia.

Baca juga !